IMPAL PAGIT

Nama,
peristiwa dan tempat dalam cerpen ini hanya sebuah ilustrasi dan khayalan
penulis

      Kutacane
kini hanya tinggal  kenangan manis yang tak terlupakan dan aku
bersumpah pada diriku tidak akan berkunjung kembali ..semoga dia bahagian
dengan pilihannya….. itulah yang selalu terucap oleh  Arman setiap
kali dia bercerita masa lalu dengan Andry Sekedang. Awal tahun 1992
Arman menginjakkan kaki di Bumi Sepakat Segenap mengikuti bokap yang
pindah tugas dan sebagai murid baru kelas 2 IPA 2 di SMA Negeri I Kutacane. 
Persahabatan Arman dengan putra/putri daerah sangat cepat bahkan 
karena keluasannya, tidak sampai satu tahun berdomisili di Kutacane
dia telah menguasai crok Alas. Banyak siswi pada saat itu mendambakan
dirinya menjadi teman dekat  alias eramah. Bermodal kepribadian
yang baik dan ketampanan Arman bukan saja menggoda para siswi 
bahkan teman siswa putrapun saling mencari kesempatan   ingin menjadi
comblang…… wah !  mungkin saja sudah mendapat iming-iming dari
siswi yang ingin menngaetnya. Juanda  memperkenalkan seorang siswi bernama
Rahmine  Syaitapi kepada  Arman,  tepatnya  pada malam
mempahur  di desa  Mbamban. Tradisi mpahur tidak asing lagi 
bagi  Arman oleh karena itu dengan mudah dia  mendapat 
kebahagian tersendiri …….mulai dari makan malam sampai kain sarung 
diberikan oleh Rahmine. Perkenalan yang mulanya biasa saja lambat laun
bagaikan dua insan yang tak dapat dipisahkan, dimana ada Arman di situ
ada Rahmine, kemana Rahmine pergi selalu di kawal oleh Arman terkecuali
mungkin pada saat belajar karena Rahmine siswi SMEA Negeri Kutacane.
Saat –saat indah dilalui dengan romantis, hampir pada setiap bulan
mereka  saling menguatkan kesetiaannya  berpergian ke Lawe
Geger, Ketambe atau tempat-tempat rekreasi lainnya. Memang sebelumnya 
hubungan mereka tidak mulus. Pada suatu kali ketika berpergian ke pulau
sepang, Arman pernah babak belur dipukul bahkan sampai didodok bagas
lawe
terperogok sama turangnya …mirip-mirip kisah cinta
flim India. Atas peristiwa itu pulalah pendirian Arman semakin kuat
untuk menggenggam  Rahmine selalu dalam cinta dalam pelukannya.
Dua sejoli ini tidak asing lagi dikalangan muda –mudi pada saat itu
bahkan sebahagian menjadikan mereka icon lambang  kesetiaan. Hari
berganti minggu, minggu berganti bulan dan beranjak perggantian tahun,
akhirnya tiba pada saat yang  sama-sama  tidak  diingini. 
Arman  harus melanjukan  studi ke Bogor sedangkan Rahmine ke Akademi 
Perawat Medan, serta Orang tua Arman bertepatan kembali mendapat tugas
ke Lampung. Malam perpisahan itu sangat dingin berketepatan dengan bulan
September, sejak dari pagi dan siang hujan terus membasahi bumi Alas 
bagaikan pertanda alam pun turut berduka atas kesedihan ini. Rahmine
nangis terisak-isak di pipi Arman, sesekali Arman pun  meneteskan
air matanya sambil memeluk erat. Mereka berjanji untuk saling mencintai
walaupun harus berpisah sementara, memang pada saat-saat mereka memadu
cinta  pernah terucap oleh Arman agar Rahmine bersedia dibawa ke
KUA ,tapi  Rahmine mempunyai pemikiran dan hati luas agar ditunda
hingga Arman mempunyai bekal peganggan hidup yaitu meneruskan sekolah.
Kesetiaan Rahmine terbukti pada  saat melepas ke pergian Arman,
Rahmine memeluk erat-erat Arman, sambil  tidak berhenti-hentinya
menangis dan pada saat mobil Arman mulai meluncur  Ramine pingsan.(
Sedih , hiba dan romantis  orang-orang melihatnya ).

      Setiap
hari Rahmine merasa kegersangan jiwa, Armanpun merasakan hal yang serupa
maklum pada semasa itu belum ada  HP sehingga tidak ada SMSan.
Sesekali mereka berdua bercinta melalui udara bahkan Rahmine merupakan
pelanggan Wartel yang setia. Oh alangkah bahagianya  pada tahun 
1996 Arman dan Rahmine diberi kesempatan oleh Tuhan bertemu disebuah
kafe jalan Mongonsidi  Medan, tanpa ada lagi basa-basi mereka saling
berpelukan, berciuman dan mengeluarkan air mata bahagia, saling curhat
dan disetiap penghujung kata mereka  berangkulan… hm indahnya…..liku-liku
percintaan ini. Dari wajah Rahmine yang bahagia rupanya ada tersimpan
ganjalan di hatinya dari sikap itu, Arman cepat dapat membaca bahasa
tubuh itu…perlahan Arman membisik ditelinga ….. ada apa dengan mu
sayang ! sedangkan aku sudah berada di pelukakan mu. Mulanya Rahmine
tidak mau mengungkapkan perasaan  yang gundah dihatinya…… Arman
tetap memaksa hingga Rahminepun berkata  Sayang ku…. bulan depan saya 
wisuda  dan aku harus kembali ke Kutacane…. Tapi mengapa kamu 
sangat beredih sekali ?  kan kita masih dapat saling curhat lewat
telepon !! Rahmine nangis dan memeluk Arman sungguh-sungguh dan berucap
bukan itu yang saya sedihkan man !. Tapi hubungan kita apakah masih
dapat terus kejenjang perkawinan !! ? Insya ALLAH  Arman menyambutnya 
dan jangan ragu dengan cintaku….aku tidak dapat hidup tanpamu mine
!

      Tahun
1998 Arman menyandang gelar Sarjana Pertanian berkat otak yang encer
dia dibutuhkan suatu perusahaan yang beroperasi di Kalimantan tepatnya
dijawatan Perkebunan,  dengan perasaan yang bangga melangkah ke Kalimantan
dan sudah terniat untuk melamar buah hatinya Rahmine. Pada sisi lain
Rahmine tidak dapat berbuat banyak karena, angin-anginya dia akan dijodohkan
dengan saudara  laki-laki sepupu Impal Pagit. Berita
burung yang didengarnya  jadi kenyataan ……wali  Rahmine
menerima lamaran calon sang besan agar  Rahmine dijadikan pemainya.
Sekuat apapun Rahmine memberontak tidak akan merubahkan keputusan orang
tuanya….. Rahmine dijaga ketat dan dikawal kemana saja, dan yang paling
tragis rahmine pernah diselamatkan karena berusaha menghilangkan nyawanya
sendiri. Peristiwa ini tidak dikabarkan  Rahmine ke Arman…..karena
merasa takut dan sedih jika sang kekasih mengetahuinya, namun disetiap
kesempatan berkomunikasi Rahmine selalu menangis terisak-isak.

      Perasaan
dua sejoli tidak dapat disembunyikan Arman merasa ada sesuatu yang sangat
tidak beres pada Rahmine………. Kesimpulannya Arman akan ke Kutacane
datang dan langsung melamar Rahmine. Tanpa pemberitahuan dahulu ke Rahmine,
Arman Berangkat ke Kutacane dan 2 hari diperjalanan sampailah Arman
di Kota Medan. Dalam perjalanan Medan- Kutacane Arman membayang-bayangkan
suatu kejutan bagi Rahmine atas kehadirannya. Arman sangat gelisah didalam
mobil,  perasaannya jalan ke Kutacane lebih jauh  dari pada
ke Kalimantan  dan mulai bimbang ketika mobil sudah melaju sampai Lawe
Pakam. Kemana tujuan saya pertama ? hati Arman berkata ! Diusap keningnya
dan dia langsung memberi tahu kepada sopir agar dibawa ke Hotel Brudihe.
Malam yang sunyi dilalui dengan deg-degan  sementara  diluar
tidak ada lagi kelihatan orang-orang yang pernah dia kenal. Pagi yang
cerah membangunkan Arman dari peraduannya dia bergegas ke toilet mandi,
setelah mengenakan pakaian pemberian kado ulang tahun dari Rahmine langsung
pergi sarapan disudut belakang Kota Kutacane  kedai  nasi
yang sudah popular dikalangan penggemar nasi gurih… Pak Udin nama
pemiliknya. Entah kenapa salah seorang pembeli  memandang Arman
agak simpati seolah-olah ada yang akan disampaikannya  tapi dia
tidak berkata apa-apa dan. Saya bergegas meyelesaiakan sarapan. 
Becak……panggil Arman  ..kita  ke Polounas …dengan ayunan
yang gontai becakpun berjalan, kira-kira 300  meter dari kediaman
Rahmine suara keyboard berbunyi dengan nyaring diiringi suara kecil
merdu….  Arman  bertanya-tanya dalam  hati ada hajatan apa
dirumahnya ? jarak becak semakin mendekati keramaian, setiap orang yang
dilintasi melihat Arman dengan muka sendu… seseorang menyapanya dan
mempersilahkan masuk seraya berkata. “ kamu  orangnya jentelmen”.
Bagaikan  petir disiang bolong menyambar perasaannya…dengan suara
teriakan histeris Rahmine memanggilnya berlari memeluk dan menciumnya,
menangis  serta permohonan maaf  dan berkata Arman aku tidak
berdaya,aku dipaksa, aku diancam, Arman pandanglah aku seperti dulu
? kenapa engkau diam membisu ? ribuan mata memandang peristiwa itu,
ada yang turut nangis bahkan ada pula yang sengaja agar menjauhkan pengantin.
Arman tertunduk lemas, menangis, dan berkata: Rahmine andaikan memang
engkau tidak menyintai aku lagi kenapa pernikahan ini tidak dibeitakan
padaku..engkau sangat kejam  Rahmine ! dari jauh saya datang untuk
meminang mu dan aku datang sesuai kehendak mu setelah  mapan seperti
yang kau harapkan. Tanpa disadari Arman, pingsan dan dibawa ke rumah
tetangga….beberapa menit setelah siuman…. Arman lari keluar dari
pintu belakang dan hilang lenyap dari keramaian………… entah bagaimana
setelah itu yang terjadi pada Rahmine, Arman pulang langsung meninggalkan
Kutacane….

      Kini 
hampir sepuluh tahun berpisah, hingga kini Arman belum memaafkan Rahmine..sedangkan
Rahmine berusaha mencari berita tentang Arman, Rahmine yang bersuamikan
Impal Pagit telah dikarunia seorang anak yang diberi nama  RAHMAN
(kesingakatan  Rahmine Arman)……..

Terimakasih
pada pembaca yang budiman…jika pembaca tidak keberatan saya akan menulis
cerpen berikutnya.

                                              Torneka Ansyarullah

                                              Kalimantan Timur

One Response to “IMPAL PAGIT”

  1. yunyun Says:

    terharu..
    tp knp singkat bgt…
    yg buat penasaran bgmana si arman…

Leave a Reply